Berangkat dari suatu hal yang biasa saja, listrik padam. Padahal saat itu tengah berdiskusi dalam menyelesaikan masalah pada materi lingkaran. Dikelas yang dilantai dua, 2 jam terakhir dan udaranya sangat panas, tentu saja karena AC pun mati. Anak-anak mulai gelisah, duduknya mulai tidak tenang, mulailah kipas-kipas cari angin. Saya tawarkan ke mereka bagaimana kalau kita belajar di tempat yang enak buat belajar dan tidak gerah. mereka setuju dan akhirnya kuminta mereka turun dengan membawa semua tasnya.
Sampai di bawah mereka mencari tempat dibawah pohon, dan terbentuklah halaqah-halaqah. Halaqah adalah kelompok kecil yang melingkar untuk membahas/membicarakan sesuatu. Dan halaqah itu kembali melanjutkan diskusi yang sempat terpotong karena listrik padamtadi.
Beberapa hal dalam pengamatan nampak hampir semua aktif dalam diskusi. Terjadi interaksi yang bagus, yang belum tahu aktif bertanya kepada teman yang begitupula sebaliknya. Teman yang tahu memberitahu yang tahu. Mereka belajar dengan tenang meski cuaca panas tetapi dibawah pohon ada angin yang sepaoi-sepoi, meskipun hanya lesehan dilantai beralaskan tas mereka namun mereka menunjukkan kegembiraan.
Diskusi berjalan lancar saling adu argumentasi dalam menyelesaikan masalah. Ada empat soal yang dapat terselesaikan dengan sangat bagus. Bagus ya bagus, penyelesaiannya runtut dan diskusi aktif, pengambilan kesimpulanpun tepat.
Ternyata cara belajar itu sangat menentukan seberapa besar penyerapan materi bisa masuk. Dalam suasana santai dengan berhalaqah ternyata lebih memudahkan anak saling berinteraksi. Pengamatan ke siswa bagi guru juga lebih mudah.
Halaqah matematika, silakan mencoba.
Salam Literasi.



No comments:
Post a Comment